Sunday, December 7, 2014

Bukti Kebenaran Al=Qur'an



SUBHANALLAH Inilah bukti kebenaran AGAMA ISLAM
Bismillah ... Injil Asli yang Menggemparkan Dunia Itu, 12 Tahun Dirahasiakan, Menjelaskan Nabi Isa Tidak Disalib dan Membenarkan Nabi Muhammad SAW, Mengguncang Vatikan dan Kristen di Seluruh Dunia!!
Belum lama ini, pemerintah Turki mengumumkan tentang penemuan Kitab Injil Asli Barnabas, salah satu murid pertama Yesus (Isa Almasih).
Hal yang tentu saja mengejutkan banyak pihak, termasuk kubu Vatikan itu sendiri.Sebagaimana diberitakan oleh DailyMail, basijpress dan NationalTurk, bahwa Injil Barnabas asli tersebut ditemukan pada tahun 2000 lalu di Turki, namun ditutupi oleh pemerintah Turki selama lebih dari 12 tahun, dan baru sekarang di beberkan ke publik.Lembaran-lembaran kulit hewan itu ditulis dengan huruf Syriac dengan dialek bahasa Aram, bahasa yang sama seperti bahasa yang umum dipakai pada masa Yesus Isa Almasih.
Pemerintah Turki menyakini bahwa kitab kulit hewan tersebut adalah Injil Barnabas orisinal.Hal yang menarik dari Kitab Injil Barnabas Asli asal Turki tersebut menyatakan bahwa YESUS TIDAK PERNAH DI SALIB, dan terdapatnya ayat-ayat yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang benar serta pengakuan tentang kehadiran Nabi Akhir Jaman, Muhammmad SAW.
Pengakuan itu terdapat pada bab 41 dari Kitab Barnabas yang ditemukan di Turki tersebut. Berikut ini terjemahannya :”Allah telah menyembunyikan diriNya sebagai Malaikat Agung Michael berlari mereka (Adam dan Hawa) dari surga, (dan) ketika Adam berbalik, ia melihat bahwa di atas pintu gerbang ke surga tertulis “La Ela ELA Allah, Mohamad Rasul Allah”Kitab yang masih menjadi perdebatan tersebut disebutkan kini disimpan di Justice Palace, Ankara, Turki dengan pengawalan ketat polisi bersenjata lengkap dan keamanan maksimum.
Pihak Iran lewat Basij Press menyatakan bahwa apa yang tertulis di kitab Barnabas asli tersebut adalah bukti tentang kebenaran Islam, yang walau begitu ditanggapi oleh sinis dari berbagai pihak.
Bahkan pihak Kristen lewat berbagai jamaatnya menyatakan bahwa Kitab Barnabas tersebut diragukan keotentikannya.
Namun walau begitu pihak Vatikan lebih arif dengan menyatakan telah mengajukan permohonan resmi ke pemerintah Turki untuk membaca dan menganalisa keaslian kitab kontroversial itu.
Para agamawan menyatakan bahwa jika Alkitab Barnabas tersebut terbukti asli, maka akan mengakibatkan rusaknya kredibilitas Gereja, dan akan menimbulkan revolusi agama Nasrani besar-besaran di seluruh Dunia.Tentu saja penemuan ini cukup menarik, sama menariknya dengan penemuan dan fakta sejarah bahwa Benua Amerika pertama kali di temukan oleh para pelaut tangguh Islam
Insya ALLAH kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah
TOLONG JANGAN DI ABAIKAN..!!
Subhanallah...
Yang menuliskan Aamiin di komentar semoga terkabul doanya bisa hafal Al-Qur'an 30 Juz, di dunia sejahtera, di akhirat masuk surga firdaus tanpa hisab. Aamii

Wednesday, September 10, 2014

KEMULIAAN LANGIT ARAFAH DI SAAT WUKUF

KEMULIAAN LANGIT ARAFAH DI SAAT WUKUF

Diposkan oleh Galih Gumelar Center On 18.07
Wukuf adalah puncaknya haji. Secara fisik, wukuf Arafah adalah puncak berkumpulnya seluruh jamaah, yang berjumlah jutaan, dari penjuru dunia dalam waktu bersamaan. Secara amaliah, wukuf Arafah mencerminkan puncak penyempurnaan haji kita. Di Arafah inilah Rasulullah menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan nama khutbah wada’ atau khutbah perpisahan, karena tak lama setelah menyampaikan khutbah itu beliaupun wafat. Di saat itu, ayat Al-Qur’an, surat al-Maa’idah ayat 3 turun sebagai pernyataan telah sempurna dan lengkapnya ajaran Islam yang disampaikan Allah SWT melalui Muhammad saw. Firman Allah SWT : “..Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu….” (al-Maa’idah:3) Arafah merupakan gambaran padang Mahsyar, yang nantinya semua makhluk dikumpulkan disana sebelum melangkah ke surga atau neraka. Kehadiran kita di Arafah memberi arti dan nuansa akhirat dengan Mahsyarnya, sekaligus merenunginya untuk bersiap-siap menghadapi hal itu.
Arafah juga merupakan tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah beratus tahun saling mencari di muka bumi.
Wukuf artinya hadir dan berada di Arafah pada waktu tertentu antara waktu dzuhur dan ashar.
Disini masing-masing jamaah dipersilahkan untuk mengkondisikan dirinya berkonsentrasi kepada Allah, melakukan perenungan atas dirinya, apa yang telah dilakukan selama hidupnya, merenungi kebesaran Allah melalui Asmaul Husna-Nya, merenungi hari akhirat.
Bentangkan dosa-dosamu di padang Arafah ini, ingatlah satu persatu dosa-dosa yang pernah engkau lakukan, ingatlah betapa waktumu selama ini habis terbuang sia-sia karena lebih banyak digunakan untuk memperindah kehidupan duniamu. Pengakuan yang jujur dan ikhlas, tanpa rasa sombong dan takabur, di hadapan Allah adalah puncak amaliah haji. Itulah Arafah, wukuf kita adalah untuk mendefinisikan hakikat keberadaan kita dihadapan Allah, sekalipun sebenarnya Allah telah mengetahui itu semua.
Pandanglah langit Arafah. Renungilah bahwa pada hari yang mulia itu Allah SWT sedang memanggil para malaikatnya berkumpul di langit Arafah, dan membangga-banggakan umatnya yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikatnya di langit.
Disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman bahwa :
“ Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihatku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”
Allah sangat memuliakan hari wukuf di Arafah. Hari itu, Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada orang-orang yang wukuf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka. Nabi Muhammad saw bersabda :
. . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ?
Pada hari itu, Allah senang sekali jika kita berdoa kepada-Nya. Ia mengabulkan semua doa mereka disana, sebagaimana tersebut dalam hadist yang lain :
Sabda Rasullullah saw : “Diantara berbagai jenis dosa, ada dosa yang tidak akan tertebus kecuali dengan melakukan wukuf di Arafah” (disinadkan oleh Ja’far bin Muhammad sampai kepada Rasulullah saw).
Bahkan Allah murka ketika manusia tidak yakin dosanya diampunkan di Arafah, seperti sabda Rasullullah saw : “Yang paling besar dosanya diantara manusia adalah seseorang yang berwukuf di Arafah lalu berprasangka bahwa Allah tidak memberinya ampun” (Al Khatib dalam kitab Al-Muttafaq wal Muftaraq)
Demikian agung dan mulianya hari Arafah ini, meski wukuf hanya beberapa jam saja. Sungguh sangat penting berdoa di Arafah, disaksikan dari dekat oleh Allah SWT dan dibangga-banggakan-Nya kita di depan para malaikatnya.
Hai malaikat-Ku ! Apa balasan (bagi) hamba-Ku ini, ia bertasbih kepada-Ku, ia bertahlil kepada-Ku, ia bertakbir kepada-Ku, ia mengagungkan-Ku, ia mengenali-Ku, ia memuji-Ku, ia bershalawat kepada nabi-Ku. Wahai para malaikat-Ku ! Saksikanlah, bahwasanya Aku telah mengampuninya, Aku memberi syafaat (bantuan) kepadanya. Jika hambaku memintanya tentu akan Kuberikan untuk semua yang wukuf di Arafah ini.”
(Imam al-Ghozali)
http://zanas.wordpress.com

Keutamaan wukuf di Arafah

II- Wukuf di Arafah


II- Wukuf di Arafah
Wukuf artinya berdiam diri di Arafah pada waktunya. Wukuf merupakan salah satu rukun haji, tidak sah Haji seseorang jika tidak berwukuf di Arafah pada tanggal 9 Dhul Hijjah. Masuknya waktu wukuf sesuai dengan ijma’ ulama mulai dari tergelincirnya matahari tanggal 9 Dhulhijjah sampai terbit fajar tanggal 10 Dhulhijjah. Sebaik-baiknya wukuf dilakukan mulai dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya matahari dan sekurang-kurangnya wukuf dilakukan sepintas lalu, yaitu dengan cara melewati Arafah sekedar thuma’ninah sambil berjalan kaki atau mengendarai kendaraan
عن علِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ فَقَالَ هَذَا الْمَوْقِفُ وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ وَأَفَاضَ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ (صحيح الترمذي)
Dari Ali Bin Abu Thalib ra, Rasulullah saw wuquf di Arafah lalu bersabda: “Ini adalah tempat wuquf, dan semua Arafah adalah tempat wuquf”.  Lalu beliau bertolak (meninggalkan Arafah) ketika matahari terbenam (at-Tirmidzi)
Diriwayatkan bahwa Nabi saw berwukuf setelah tergelincir matahari (HR Muslim)
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِعَرَفَةَ فَسَأَلُوهُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى الْحَجُّ عَرَفَةُ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ (رواه ابو داود وغيره)
Dari Abdurahman bin Yamar ra, bahwa: Manusia dari pendududuk Najed datang kepada Rasulallah saw di Arafah, bertanya kepadanya. Lalu Rasulullah saw menyuruh seseorang berseru: Haji adalah Arafah. barang siapa datang (di Arafah) di malam jama’ (Muzdalifah) sebelum terbit fajar maka ia memperoleh haji. (HR Abu Dawud dll)
Sunah Wukuf
@ – Berwukuf dari siang sampai malam yaitu mulai dari tergelincir matahari sampai tenggelamnya matahari.
عَنْ علِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ فَقَالَ هَذَا الْمَوْقِفُ وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ وَأَفَاضَ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ (صحيح الترمذي)
Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: bahwa Rasulallah saw berwukuf lalu berangkat (meninggalkan Arafah) ketika matahari terbenam. (HR Shahih at-Tirmidzi)
@ – Berwukuf di shakharat sambil menghadap ke kiblat, sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah saw,
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : ثُمَّ رَكِبَ حَتَّى أَتَى الْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ إلَى الصَّخَرَاتِ، وَجَعَلَ حَبْلَ الْمُشَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ (رواه مسلم)
Dari Jabir ra (haditsnya yang panjang): Kemudian beliau tiba di tempat wukuf maka perut untanya (al-Qaswa) telah berada ke arah shakharat menghadap kiblat (HR Muslim). Al-Shakhrat adalah satu tempat berada di bawah Jabal Rahmah di padang Arafah
@ – memperbanyak do’a dan dzikir dan sebaik baiknya dzikir dengan memperbanyak membaca :
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ يُـحْيِي وَيُـمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
لِمَا رُوِىَ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (وراه الترمذي )
Rasulallah saw bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik apa yang aku dan para Nabi sebelumku katakan adalah:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ يُـحْيِي وَيُـمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
(Tiada Ilah melainkan Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian dan Dialah Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu).” (HR at-Tirmidzi)
@ – Berwukuf dalam keadaan suci
@ – Berwukuf dalam keadaan berdiri diatas kendaraan (unta) sesuai dengan apa yang telah dilakukan Rasulallah bahwa beliau wukuf berdiri diatas kendaraannya (unta qaswaa) (HR Bukhari Muslim).
@ – Men-jama’ taqdim dan qoshor sholat Dhuhur dan Ashar di masjid Ibrahim (disebut juga masjid Namirah atau masjid Arafah) yaitu menggabung shalat Dhuhur dan Ashar di waktu dhuhur dengan satu adzan dan 2 kali iqamat, dua raka’at-dua raka’at. Hal ini sesuai dengan perbuatan Rasulallah saw yang diriwayatkan dari Jabir ra dengan haditsnya yang panjang.
Keterangan (Ta’liq):
Sekilas Tentang Arafah
Arafah di sebut dalam Al-Qu’ran dalam bentuk plural ”Arafat” sebagaimana tertera dalam surat al-Baqarah ayat no. 198,
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ – البقرة ﴿١٩٨﴾
 Artinya: ” Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam.”
Arafah berjarak sekitar 25 km dari kota Makkah dan merupakan padang pasir yang amat luas dan di bagian belakang dikelilingi bukit-bukit batu yang membentuk setengah lingkaran. Sekarang ini Arafat sudah subur ditanami dengan pohon-pohon.
Di Arafah Nabi saw pernah bersabda: “Aku wukuf disini dan arafah seluruhnya tempat untuk melaksanakan wukuf”. Arafah merupakan Masy’aril haram atau tempat syiar suci, tetapi Arafat sendiri tidak termasuk tanah haram atau tanah suci seperti Makkah. Rasulullah saw bersabda: “Haji itu ialah di Arafah dan setiap bagian tanah Arafah ialah sah untuk wukuf” (hadits tersebut diatas).
Arafah merupakan tempat yang sangat penting dalam perjalanan ibadah Haji. Disanalah para jemaah haji berkumpul untuk melaksanakan wukuf pada tanggal 9 Dzul Hijjah dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya dan sholat Dhuhur dan Asar dijama’ kan atau disatukan dengan satu adzan dan 2 kali iqamat. Wukuf merupakan salah satu rukun haji, tanpa melaksanakan wukuf di Arafah hajinya tidak sah.
Arafah mengingatkan kita kepada Padang Mahsyar di saat manusia dibangkitkan kembali dari kematian oleh Allah dan wukuf di hadapan Nya. Saat itu semua manusia sama di hadapan Allah, tidak ada perbedaan kulit dan bangsa yang membedakan hanyalah kualitas ketaqwaannya kepada Allah.
Di Arafah ada dua tempat yang mempunyai nilai sejarah yang sangat penting yaitu masjid Namirah (masjid Ibrahim) dan bukit Rahmah (jabal Rahmah). Dibawah bukit terdapat sebuah masjid Shakharat. Di masjid Shakharat itulah Nabi saw berwukuf dan pernah turun wahyu yang berbunyi:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً – المائدة ﴿٣﴾
Artinya: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan telah Ku ridhoi Islam itu jadi agamamu”. (Qs al-Maidah ayat: 3)
Di sana juga ada lembah yang disebut dengan lembah ’Uranah (wadi ’Uranah), lembah ini menjadi batas antara Arafah dengan luar Arafah. Di Arafah Rasulullah saw telah berkhutbah ketika melakukan haji wada’. Menurut hadits Jabir ra yang panjang bahwasanya Nabi saw berkhutbah di hadapan manusia yang sedang melakukan haji bersama sama beliau. Khutbah beliau itu sangat poluler dan dinamakan Khutbatul Wada’ yang dimulai dengan: “Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah suci sebagaimana sucinya hari ini, bulan ini dan negeri kalian ini”
Keutamaan Arafah:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا قَالَتْ : إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ (مسلم)
- Dari Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda: ”Tidak ada hari paling banyak Allah memerdekakan hambaNya dari neraka daripada hari Arafah. Allah sesungguhnya mendekati mereka dan membangganggakan mereka kepada para Malaikat seraya berkata: Apa saja yang mereka inginkan akan Aku kabulkan” (HR Muslim).
عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : أَفْضَلُ الدُّعَاءِ : دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ (رواه الترمذي)
- Hadits lainnya tentang keutamaan tanah Arafah, dari Abu Hurairah ra Rasulallah saw bersabda: “Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah”. (HR at-Tirmidzi)
http://hasansaggaf.wordpress.com

Sekilas Tentang Arafah

8 November 2011 | Kategori: Tempat Bersejarah

Jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah, Makkah. Foto: Antara/Prasetyo Utomo
REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT berfirman, “Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Rabb kalian. Maka apabil kalian bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada kalian; dan sekalipun sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 198).
Imam Ahmad dan para penulis kitab Sunan meriwayatkan melalui sanad yang shahih dari Ats-Tsauri, dari Bukair bin Atha’ bin Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Daili, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Haji itu adalah wukuf di Arafah. Maka barangsiapa yang mendapatkan Arafah sebelum fajar berarti dia telah mendapatkan haji. Hari-hari di Mina itu ada tiga. Namun, siapa pun yang ingin mempercepat (di Mina) menjadi dua hari, maka dia tidak berdosa. Dan siapa saja yang ingin berlama-lama, dia juga tidak berdosa.”
Wukuf di Arafah dimulai sejak zawal hingga terbitnya fajar kedua di hari Nahar. Sebab, ketika Haji Wada’, Nabi melaksanakan wukuf sesudah mengerjakan shalat Dzuhur hingga matahari tenggelam.
Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian mengerjakan manasik sepertiku.” Dalam hadits ini beliau juga bersabda, “Siapa saja yang berada di Arafah sebelum terbit fajar, niscaya telah mendapatkan haji.”
Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i. Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa wukuf itu dimulai dari awal hari Arafah.
Mereka berhujjah dengan hadits riwahyat Asy-Sya’bi dari Urwah bin Mudhras bin Haritsah bin Lam Ath-Thaiy’, dia berkata, “Aku datang menemui Rasulullah di Muzdalifah saat beliau keluar untuk mengerjakan shalat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya datang dari Gunung Thayy’, saya telah membuat lelah tunggangan saya dan tubuh saya penat. Demi Allah, tidaklah saya melintasi sebuah gunung melainkan saya berhenti (wukuf) di atasnya, maka apakah saya telah berhaji?’ Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang menyaksikan shalat kami ini, lalu dia wukuf bersama kami hingga kami selesai, dan dia pernah melakukan wukuf sebelum itu di Arafah pada waktu malam atau siang hari, berarti telah sempurna haji dan ibadahnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ahlus Sunnah).
Ada yang berpendapat, dinamakan Arafah karena berdasarkan riwayat Abdurrazaq, dia berkata, “Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Al-Musayyab bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Allah telah mengutus Jibril menemui Ibrahim untuk melaksanakan ibadah haji beramanya. Ketika tiba di Arafah, Ibrahim berkata, “Araftu” (aku telah tahu).’ Sebab dia pernah mendatanginya sebelum itu. Oleh karena itu, tempat ini kemudian dinamakan Arafah.”
Sementara Ibnu Mubarak meriwayatkan dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Atha’, dia berkata, “Dinamakan Arafah karena Jibril pernah memperlihatkan manasik kepada Ibrahim. Ibrahim lalu berkata, ‘Araftu, araftu (aku tela tahu).’ Sebab itulah dinamakan Arafah.” Riwayat yang sama disampaikan pula dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Majlaz. Wallahu’alam.
Arafah disebut pula Masy’aril Haram, Al-Masy’ar Al-Aqsha, dan Ilal ala Wazn Hilal. Gunung yang terdapat di tengahnya disebut Jabal Rahmah.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/sekilas-tentang-arafah/#sthash.UffQkdoi.dpuf

Sekilas Tentang Arafah

8 November 2011 | Kategori: Tempat Bersejarah

Jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah, Makkah. Foto: Antara/Prasetyo Utomo
REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT berfirman, “Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Rabb kalian. Maka apabil kalian bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada kalian; dan sekalipun sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 198).
Imam Ahmad dan para penulis kitab Sunan meriwayatkan melalui sanad yang shahih dari Ats-Tsauri, dari Bukair bin Atha’ bin Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Daili, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Haji itu adalah wukuf di Arafah. Maka barangsiapa yang mendapatkan Arafah sebelum fajar berarti dia telah mendapatkan haji. Hari-hari di Mina itu ada tiga. Namun, siapa pun yang ingin mempercepat (di Mina) menjadi dua hari, maka dia tidak berdosa. Dan siapa saja yang ingin berlama-lama, dia juga tidak berdosa.”
Wukuf di Arafah dimulai sejak zawal hingga terbitnya fajar kedua di hari Nahar. Sebab, ketika Haji Wada’, Nabi melaksanakan wukuf sesudah mengerjakan shalat Dzuhur hingga matahari tenggelam.
Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian mengerjakan manasik sepertiku.” Dalam hadits ini beliau juga bersabda, “Siapa saja yang berada di Arafah sebelum terbit fajar, niscaya telah mendapatkan haji.”
Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i. Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa wukuf itu dimulai dari awal hari Arafah.
Mereka berhujjah dengan hadits riwahyat Asy-Sya’bi dari Urwah bin Mudhras bin Haritsah bin Lam Ath-Thaiy’, dia berkata, “Aku datang menemui Rasulullah di Muzdalifah saat beliau keluar untuk mengerjakan shalat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya datang dari Gunung Thayy’, saya telah membuat lelah tunggangan saya dan tubuh saya penat. Demi Allah, tidaklah saya melintasi sebuah gunung melainkan saya berhenti (wukuf) di atasnya, maka apakah saya telah berhaji?’ Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang menyaksikan shalat kami ini, lalu dia wukuf bersama kami hingga kami selesai, dan dia pernah melakukan wukuf sebelum itu di Arafah pada waktu malam atau siang hari, berarti telah sempurna haji dan ibadahnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ahlus Sunnah).
Ada yang berpendapat, dinamakan Arafah karena berdasarkan riwayat Abdurrazaq, dia berkata, “Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Al-Musayyab bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Allah telah mengutus Jibril menemui Ibrahim untuk melaksanakan ibadah haji beramanya. Ketika tiba di Arafah, Ibrahim berkata, “Araftu” (aku telah tahu).’ Sebab dia pernah mendatanginya sebelum itu. Oleh karena itu, tempat ini kemudian dinamakan Arafah.”
Sementara Ibnu Mubarak meriwayatkan dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Atha’, dia berkata, “Dinamakan Arafah karena Jibril pernah memperlihatkan manasik kepada Ibrahim. Ibrahim lalu berkata, ‘Araftu, araftu (aku tela tahu).’ Sebab itulah dinamakan Arafah.” Riwayat yang sama disampaikan pula dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Majlaz. Wallahu’alam.
Arafah disebut pula Masy’aril Haram, Al-Masy’ar Al-Aqsha, dan Ilal ala Wazn Hilal. Gunung yang terdapat di tengahnya disebut Jabal Rahmah.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/sekilas-tentang-arafah/#sthash.UffQkdoi.dpuf

Monday, September 1, 2014

Kisah Dua Musa

Kisah Dua Musa (Musa bin Imron dan Musa As-Samiri)

Pengajian tafsir di bulan Ramadlan hari ke - 20, para santri membaca ayat wa-adlallahumus saamiri (dan Musa Assamiri menyesatkan mereka/bani Israel).


قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِن بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ
"Allah berfirman: "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri ." (QS. Thaha 20 : 85)

Musa Assamiri adalah salah satu pengikut Nabi Musa dari suku Samirah yang akhirnya murtad, bahkan mengajak bani Israel menyekutukan Allah).

Di saat Nabi Musa membimbing bani Israel untuk beribadah hanya menyembah Allah, yaitu setelah peristiwa perdebatan Nabi Musa dengan Fir`aun di depan para penyihir, yang akhirnya dimenangkan oleh Nabi Musa dan berimanlah para ahli sihir itu.

Konon Nabi Musa terus mengajarkan agama kepada para pengikutnya agar tetap mempertahankan aqidahnya. Bahkan demi menjaga keimanan kepada Allah itu, ada mantan para penyihir yang sudah mengimani kerasulan Nabi Musa itu mati syahid akibat disalib dan dimutilasi oleh Fir`aun si Raja kejam itu.

Lantas Nabi Musa mengajak kaumnya yang beriman untuk menjauh dari kekejaman Fir`aun, hingga suatu saat Nabi Musa mendapat perintah khalwat (menyendiri dari kaumnya) untuk bermunajat demi memperoleh petunjuk dari Allah.

Sebelum Nabi Musa pamit kepada kaumnya, beliau meminta kepada saudaranya, yaitu Nabi Harun agar menjaga dan mengawasi kaumnya, jangan sampai ada yang kembali menyembah tuhan selain Allah. Lantas Nabi Musa berangkat ke Gunung Sinai untuk bermunajat kepada Allah.

Sedang bani Israel menunggu di suatu tempat yang telah ditunjuk oleh Nabi Musa. Mereka ditemani oleh Nabi Harun. Dalam rombongan itu ada Musa Assamiri, yaitu seorang dari suku Samirah yang konon di masa kecil mempunyai pengalaman yang hampir sama dengan Nabi Musa.

Dia termasuk anak bayi lelaki yang diasingkan oleh ibunya gara-gara takut dibunuh oleh raja Fir`aun. Jika bayi Nabi Musa pada akhirnya diasuh dan dibesarkan oleh keuarga fir`aun, maka menurut ahli sejarah, bayi Musa Assamiri justru diasuh dan dibesarkan oleh Malaikat Jibril atas ijin Allah.

Anehnya bayi yang diasuh Fir`aun tatkala tumbuh dewasa, oleh Allah diangkat menjadi rasul karena keimanannya, sedangkan bayi yang diasuh oleh malaikat Jibril, justru menjadi musyrik dan kafir kepada Allah.

Konon tatkala Nabi Musa berada gunung Sinai untuk bermunajat selama 40 hari, ternyata Musa Assamiri berulah melawan Nabi Harun. Musa Assamiri mengajak bani Israel membuat patung sapi emas untuk disembah.

Musa Assamiri sengaja mengumpulkan semua perhiasan emas milik bani Israel, lantas memandenya dengan api dan menjadikan patung anak sapi. Musa Assamiri tergolong orang pintar dan modern untuk jaman itu. Dia mampu menerapkan tehnik pembuatan patung dengan diberi lobang tertentu yang jika tertiup angin kencang dapat berbunyi.

Kalau orang Jawa Timur mengenal istilah `layangan sowangan` yang dapat berbunyi, yaitu layang-layang yang diberi pita suara pada bagian tertentu, jika naik ke udara dapat mengeluar suara tertentu.

Semacam inilah gambaran kepandaian Musa Assamiri saat itu dalam menerapkan tehnik membuat patung anak sapi untuk bani Israel agar dapat berbunyi, lantas patung sapi itu diletakkan di tengah padang pasir dengan ketinggian tertentu.

Tatkala tertiup angin kencang, maka berbunyilah patung sapi itu. Musa Assamiri mengatakan kepada bani Israel : Lihatlah, Tuhan yang dipanggil Nabi Musa itu sedang mendatangi patung sapi milik kita, karena itu ayoo kita sembah bersama-sama...! Mereka pun sujud menyembah patung sapi buatan Musa Assamiri itu.

Melihat keadaan itu Nabi Harun marah, namun beliau tidak mampu mencegah mereka karena kepandaian Musa Assamiri mempengaruhi bani Israel bertahan menyembah patung sapi buatannya itu hingga Nabi Musa datang.

Penyair mengatakan :
إذا لم تصادف في بريق عناية ... فقد كذب الراجي وخاب المؤمل
فموسى الذي رباه جبريل كافر ... وموسى الذي رباه فرعون مرسل
Idzal mar-u lam yadnas minal lukmu `irdluhu # Fakullu ridaa-in yartadiihi jamiilu.
Fa muusal ladzii rabbaahu Jibriilu kaafirun # Wa muusal ladzii rabbaahu Fir`aunu mursalu.

Jika kehormatan seseorang itu tidak pernah cacat akibat kejahatan, maka pakaian apapun yang ia kenakan akan tampak indah.
Musa (Assamiri) yang konon dipelihara Jibril menjadi orang kafir, sedangkan Musa yang dipelihara Fir`aun justru diangkat jadi rasul.
http://www.muslimedianews.com


Friday, August 29, 2014

bukti kekuasaan Allah Swt.menurut al-qur'an Al-Baqarah [2:164]


Surat Al-Baqarah [2:164]
[Dalam pergantinya siang dan malam, adalah salah satu bukti kekuasaan Allah Swt.]

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

inna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi waikhtilaafi allayli waalnnahaari waalfulki allatii tajrii fii albahri bimaa yanfa’u alnnaasa wamaa anzala allaahu mina alssamaa-i min maa-in fa-ahyaa bihi al-ardha ba’da mawtihaa wabatstsa fiihaa min kulli daabbatin watashriifi alrriyaahi waalssahaabi almusakhkhari bayna alssamaa-i waal-ardhi laaayaatin liqawmin ya’qiluuna
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
* * *
Ayat ini menerangkan tentang, bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’alla. dan memang banyak sekali bukti atas kekuasaan Allah Swt, yang salah satunya adalah silih bergantinya siang dan malam.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” [QS. Al- Fushshilat]
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran 190-191)
Dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa di dalam penciptaan langit dan bumi serta segala keajaiban yang ada pada keduanya dan berbagai perbedaan siang dan malam dari segi datang dan perginya maupun dari segi lebih dan kurang temponya, semua itu merupakan bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT bagi Ulil Albab, yakni orang-orang yang punya akal. Ulil Albab adalah orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Artinya ingat dan menyebut-nyebut Allah dalam setiap keadaan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa juga disebut Ulil Albab adalah orang-orang yang melaksanakan sholat sesuai dengan kemampuan.
Dan Ulil Albab adalah orang-orang yang berfikir tentang penciptaan langit dan bumi untuk mendapatkan bukti atas kekuasaan pembuatnya. Lalu mereka berkata Rabbana, ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan ciptaan yang kami lihat itu sebagai perkara yang sia-sia. Justru kami melihatnya sebagai bukti atas kesempurnaan kekuasaan-Mu. Subhaanaka, Maha Suci Engkau, Engkau suci dari segala kesia-siaan.
Dalam Tafsir Ibnu Abbas diterangkan bahwa Allah SWT dalam ayat di atas menerangkan tanda kekuasaan-Nya kepada kaum kafir Makkah karena sebelumnya mereka telah meminta bukti kepada Nabi Muhammad saw. atas apa yang beliau katakan. Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya di dalam penciptaan langit, artinya sesungguhnya di dalam apa yang diciptakan oleh Allah SWT di langit berupa para malaikat, matahari, bulan, dan bintang-bintang, serta awan; dalam penciptaan bumi, artinya penciptaan bumi dan apa yang diciptakan di bumi seperti gunung-gunung, lautan, tanaman, dan hewan; dalam perbedaan siang dan malam yaitu dalam pergantian siang dan malam; semua itu benar-benar merupakan bukti-bukti keesaan Allah SWT bagi Ulil Albaab, yakni orang-orang yang punya akal. Lalu Allah memberikan sifat kepada Ulil Albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah dengan melaksanakan sholat secara berdiri –jika dia mampu, dengan cara duduk –jika tidak mampu berdiri, dan dengan cara berbaring – jika tidak mampu berdiri maupun duduk. Dan ulil Albab itu selalu berfikir tentang keajaiban penciptaan langit dan bumi lalu berkata Ya Rabbana, Wahai Tuhan kami, tidaklah yang Engkau ciptakan itu sia-sia. Subhaanaka, Maha Suci Engkau, mereka mensucikan Allah, maka bebaskanlah kami dari adzab neraka. Tolaklah dari kami adzab neraka.
Dalam Tafsir Al Qurthuby dijelaskan bahwa dalam penghujung surat Ali Imran ini Allah SWT memerintahkan untuk memperhatikan dan mencari bukti-bukti dalam tanda-tanda kekuasaan-Nya agar keimanan umat ini bersandar kepada bukti yang meyakinkan atas kebenaran dan kekuasaan Allah SWT. Bukan keimanan yang dibangun dengan taqlid semata. Ulil Albab adalah orang-orang yang menggunakan akal untuk memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah SWT. Al Qurthuby mengutip hadits riwayat Aisyah r.a. yang berkata: Ketika turun ayat ini kepada Nabi saw. beliau bangun untuk shalat. Pagi itu Bilal datang untuk mengumandangkan adzan maka Bilal melihat beliau saw sedang menangis. Bilal bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang akan datang! Maka Rasulullah saw. bersabda: “Hai Bilal, apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur? Sungguh Allah telah turunkan pada malam ini ayat : inna fi khalqis samaawaati wal ardli wakhtilafil laili wan nahaar la aayatil liulil albaab. Kemudian beliau saw bersabda: Celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak berfikir merenungkannya!” Disunnahkan setiap bangun malam memulai dengan membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran (ayat 190-200) sebagai ittiba’ kepada Rasulullah saw.
Membangun generasi Ulil Albab
Generasi awal yang dibangun oleh baginda Rasulullah saw adalah generasi yang dibangkitkan akal dan fikiran mereka sehingga mereka adalah generasi yang mengalami kebangkitan berfikir yang luar biasa. Hasilnya pun luar biasa. Dua puluh delapan tahun setelah Al Quran yang menyentuh hati dan menggugah akal fikiran mereka turun dan telah membangun karakter manusia unggul dalam tempaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw yang senantiasa membacakan ayat-ayat Al Quran dan mengajarkan ilmu-ilmu dalam Al quran dan As Sunnah, generasi awal umat Islam yang tadinya adalah generasi buta huruf itu mampu mengalahkan dua negara adidaya penguasa dunia pada waktu, Rumawi dan Persia di tahun yang sama, yakni 15 H. Itulah generasi sahabat, yakni generasi Ulil Albab. Mereka murni generasi bentukan risalah Islam, mereka tidak meniru cara berfikir dan cara hidup bangsa adidaya Rumawi maupun Persia. Oleh karena itulah, mereka bisa mengungguli kedua bangsa dan negara adidaya penguasa dunia itu, walau generasi Ulil Albab itu masih baru lahir.
Generasi Ulil Albab ini adalah generasi yang telah yaqin dengan keesaan dan kekuasaan Allah SWT berdasarkan sentuhan ayat-ayat Al Quran yang membangun kemampuan berfikir mereka mencari bukti keesaan dan kekuasaan Allah SWT itu dalam diri dan alam semesta yang ada yang merupakan ciptaan Allah semuanya. Mereka adalah generasi yang berpengetahuan dan selalu berusaha mendengar pengetahuan dan mengikuti yang terbaik. Allah SWT menyebut mereka dalam firman-Nya:
“(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah (Ulil Albab) yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar 9).
Juga firman-Nya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya (yakni Al Quran). mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka. Itulah Ulil Albab, yaitu orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az Zumar 18).
Dan generasi Ulil Albab ini adalah generasi yang mendapatkan al hikmah, yakni ilmu yang bermanfaat yang mengantarkan kepada amal. Allah SWT berfirman: “Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab, orang-orang yang berakallah, yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS. Al Baqarah 269).
Oleh karena itu, jika umat ini hari ini ingin terlahir kembali menjadi generasi Ulil Albab sebagaimana para sahabat, maka mereka harus menapaki jalan perjuangan para sahabat Rasulullah saw yang memahami bahwa mereka itu dilahirkan untuk memperjuangan Islam, risalah yang dibawa oleh baginda Rasulullah saw., secara totalitas, sehingga mereka menjadi manusia baru kembali dengan celupan petunjuk Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw yang pasti akan bisa mengungguli bangsa dan negara dengan ideologi manapun di dunia ini.
http://tafsiralquran2.wordpress.com

Tuesday, June 17, 2014

Hukum Mengumumkan Awal Ramadhan dan Syawal pada Khalayak dengan Hisab


Hukum Mengumumkan Awal Ramadhan dan Syawal pada Khalayak dengan Hisab

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya mengumumkan awal Ramadhan atau awal Syawal untuk umum dengan hisab atau orang yang mempercayai sebelum ada penetapan hakim atau siaran dari Departemen Agama? Boleh ataukah tidak? (NU Cabang Banyuwangi)

Jawaban :

Sesungguhnya mengabarkan tetapnya awal Ramadhan atau awal Syawal dengan hisab itu tidak terdapat di waktu Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Sedang, pertama-tama orang yang memperbolehkan dengan hisab ialah Imam Muththarif, guru Imam Bukhari. Adapun mengumumkan tetapnya awal Ramadhan atau awal Syawal berdasarkan hisab sebelum ada penetapan/ siaran Departemen Agama, maka Muktamar memutuskan tidak boleh, sebab untuk menolak kegoncangan dalam kalangan umat Islam, dan Muktamar mengharap kepada pemerintah supaya melarangnya.

Keterangan, dalam kitab:

1. Al-Bughya al-Mustarsyidin,
"(Kasus dari Sulaiman al-Kurdi) Bulan Ramadhan, sebagaimana bulan-bulan lain, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan Ru'yah atau menyempurnakan 30 hari tanpa perbedaan, kecuali masuknya Ramadhan yang bisa ditetapkan dengan satu orang adil"(Abdurrahman Ba'alawi,Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 108, Mesir: Musthafa al-Halabi, 1952).

2. Al-Bughya al-Mustarsyidin,
"(Kasus dari Abdullah bin Umar al-'Alawi al_Hadhrami dan Muhammad Sulaiman al-Kurdi) Munjim yaitu orang yang berpendapat bahwa permulaan bulan adalah dengan munculnya bintang tertentu, dan ahli hisab yaitu orang yang berpedoman pada tempat perputaran bulan dan kadar perputarannya, boleh mengamalkan pedoman tersebut. Namun, andaikan terbukti hari yang mereka puasai itu adalah hari Ramadhan, puasa mereka tetap tidak mencukupi dari puasa Ramadhan. Mereka itu hanya diperbolehkan berpuasa saja.... Meskipun begitu, bila hisab bertentangan dengan ru'yah, maka yang diamalkan adalah ru'yah bukan hisab menurut pendapat manapun" (Abdurrahman Ba'alawi,Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 110, Musthafa al-Halabi, Mesir, 1952).

3. Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra,
"Dan dari bukti-bukti pendapat ulama tersebut bisa disimpulkan, bahwa yang menjadi pedoman adalah keyakinan hakim secara mutlak. Oleh sebab itu, ketika hakim yang melihat hilal sudah menetapkannya dan keputusan hukumnya tidak terbantah, sebab berlawanan dengan nash sharih yang tidak mungkin dita'wil, maka keputusan hukumnya dibenarkan" (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra,Jilid II, hal. 81, Dar al-Fikr, Beirut, 1403 H). http://www.muslimedianews.com

Thursday, June 12, 2014

Khutbah Jum'at Menyambut Bulan Ramadhan 1434 H

Khutbah Jum'at Menyambut Bulan Ramadhan 1434 H




………………………. أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ .يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
,أَمَّا بَعْدُ،
Kaum muslimin Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah.

Kembali saya disini sebagai khotib pengganti, maka saya berwasiat untuk diri saya pribadi dan juga untuk para jama’ah sekalian, tak henti-hentinya dalam setiap jum’at diwasiatkan kepada kita untuk terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt, karena dengan modal iman dan taqwa lah kita semua akan bahagia di dunia dan di akhirat.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah karena di hari yang mulia ini kita dikumpulkan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Hari Jumat merupakan hari raya kaum muslimin dalam setiap pekannya.
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Swt
Beberapa hari yang lalu kita telah melewati nisfu sya’ban tepatnya pada 15 Sya’ban 1433 H, itu berarti hanya tinggal 15 hari lagi bulan suci Ramadhan akan datang menjumpai kita, bulan yang mulia, yang diharapkan oleh orang-orang shalih perjumpaan dengannya. Di bulan tersebut, seseorang bisa mengumpulkan pahala yang banyak dengan waktu yang singkat demi mencapai kedudukan yang mulia di sisi Allah Ta’la.
Sejenak, marilah kita introspeksi, sudah berapa kali kita mendapati Ramadhan. Namun, apakah kita telah meraih pelajaran-pelajaran berharga dari bulan Ramadhan?! Sudahkah Ramadhan membuahkan perubahan dalam pribadi kita ataukah hanya sekedar rutinitas belaka yang datang dan berlalu begitu saja?!
Oleh karenanya, perkenankanlah saya pada khotbah kali ini untuk menyampaikan pelajaran-pelajaran di bulan suci Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan sekolah keimanan dan bengkel yang sangat manjur bagi orang yang mengetahuinya. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil darinya, di antaranya:
Ikhlas
Ikhlas merupakan fondasi pertama diterimanya suatu amalan ibadah seorang hamba. Dalam ibadah puasa secara khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من صام رمضان إيمانا واتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala Allah, maka akan diampunilah dosanya yang telah lalu.” (HR. bukhori dan Muslim)
Demikian pula dalam setiap amal ibadah kita, marilah kita ikhlaskan murni hanya untuk Allah semata sehingga kita tidak mengharapkan selain Allah. Ingatlah bahwa sebesar apa pun ibadah yang kita lakukan tetapi bila tidak ikhlas mengharapkan wajah Allah maka sia-sia belaka tiada berguna.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim no. 1905 dikisahkan bahwa tiga golongan yang pertama kali dicampakkan oleh Allah adalah mujahid, pemberi shodaqoh, dan pembaca Alquran. Perhatikanlah, bukankah jihad merupakan amalan yang utama?! Bukankah shodaqoh dan membaca Alquran merupakan amalan yang sangat mulia? Namun, kenapa mereka malah dicampakkan ke neraka?! Jawabannya, karena mereka kehilangan keikhlasan dalam beramal.
Mutaba’ah
Mengikuti sunah merupakan fondasi kedua untuk diterimanya suatu ibadah. Betapa pun ikhlasnya kita dalam beribadah tetapi kalau tidak sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tertolak dan tidak diterima. Oleh karenanya, dalam berpuasa kita meniru bagaimana puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengakhirkan sahur dan bersegera dalam berbuka.
Demikian pula dalam setiap ibadah lainnya, marilah kita berusaha untuk meniru agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga amal kita tidak sia-sia belaka.
Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setiap kebaikan dan kejayaan hanyalah dengan mengikuti sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun terkadang akal belum menerima sepenuhnya.
Dalam Perang Uhud, kenapa kaum muslimin mengalami kekalahan? Jawabannya, karena mereka tidak taat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, apabila kita menginginkan kejayaan maka hendaknya kita menghidupkan dan mengagungkan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan malah merendahkan dan melecehkannya!!
Takwa dan Muroqobah
Meraih derajak takwa merupakan tujuan pokok ibadah puasa. Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa artinya takut kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, marilah kita koreksi dan bertanya pada hati kita masing-masing, apakah kita bertujuan hendak meraih tujuan puasa ini?! Akankah kita memetik buah ketakwaan ini?! Ataukah kita puasa hanya menjalaninya dengan anggapan sekadar rutinitas saja?!
Seorang yang berpuasa tidak akan berbuka sekalipun manusia tidak ada yang mengetahuinya karena merasa takut dan merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-geriknya. Demikianlah hendaknya kita dalam setiap saat merasa takut dan diawasi oleh Allah di mana pun berada dan kapan pun juga, terlebih ketika kita hanya seorang diri. Apalagi pada zaman kita ini, alat-alat kemaksiatan begitu mudah dikonsumsi, maka ingatlah bahwa itu adalah ujian agar Allah mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang takut kepada-Nya.
Konsisten/Terus di Atas Ketaatan
Ibadah puasa mengajarkan kepada kita untuk tetap konsisten dalam ketaatan. Oleh karena itu, perhatikanlah hadis berikut:
“Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, ‘Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh akhir bulan Ramadhan maka beliau bersungguh-sungguh ibadah, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Demikianlah suri teladan kita, justru lebih bersungguh-sungguh di akhir Ramadhan, bukan terbalik seperti kebanyakan di antara kita, di awal Ramadhan kita semangat tetapi di akhir-akhir Ramadhan sibuk dengan baju baru, kue lebaran, dan hiasan rumah.
Maka mari kita persiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya menjelang Ramadhan yang tinggal 12 hari lagi. Jangan sampai kita hanya melewatinya sebagai rutinitas tahunan dan membiarnya berlalu tanpa makna yang spesial. Itulah beberapa pelajaran Ramadhan yang bisa kita ambil hikmahnya, semoga dapat kita pahami, menjadi motivasi, dan dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
 http://rifqimiftahulamili.blogspot.com

Tuesday, June 10, 2014

Kiat Menyambut Bulan Ramadhan 2014 M

 

Kiat Menyambut Bulan Ramadhan

Seringkali kesibukan dan gegap-gempita dunia membuat kita lupa dengan akhirat. Kini, beberapa hari lagi Ramadhan, bulan shaum itu akan menyapa kita. Ya, kedatangannya setahun sekali, selalu membuat jiwa-jiwa beriman merindukan dan menanti-nantikannya. Karena banyak bonus kebaikan dari Allah di dalamnya bagi kaum yang mau berpikir dan beramal, sesibuk apapun dirinya.
Nah, bagi kita yang beriman dan rindu dengan datangnya bulan suci ini, tentu tengah mempersiapkan diri dengan berbagai persiapan. Lalu apa persiapan utama agar kita gembira dan mengoptimalkan nuansa keindahan beribadah kepada Allah di dalamnya? Berikut beberapa di antaranya:


1. Taubat.
Ya segera bertaubat dan memperbaharuinya. Dengan bertaubat sesegera mungkin, Insya Allah kita akan mudah menyambut Ramadhan dan mengisi amalan-amalan shalih di dalamnya. Bertaubat dari segala dosa yang selama setahun ini tanpa disadari telah mengotori jiwa dan hati kita, sehingga membuat hati kita menjadi keras dan kebal terhadap kebaikan dan kebenaran.
2. Berdoa "Ya Allah, sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan."
Kita patut untuk menyambut Ramadhan dengan berbagai persiapan. Menyambut Ramadhan tak ubahnya seperti menyambut waktu yang singkat namun penuh dengan manfaat. Berbagai rahasia kebaikan Allah terdapat di sana. Bukan karena kita ingin mendapatkan bonus dan THR (tunjangan hari raya yang berlipat). Bukan karena peluang memanfaatkan perdagangan di pasar-pasar. Apalagi bermalas-malasan di dalamnya lantaran di kekang oleh rasa dahaga dan lapar. Bukan. Tapi karena kebaikan yang Allah tebarkan di muka bumi ini sehingga membuat siapa saja yang beriman akan merasa mudah melakukan berbagai kebaikan.
3. Membuat Planning dan Program Untuk Memanen Pahala.
Dr. Yusuf Qordhowi mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan panen pahala. Ya, karena di dalamnya sudah Allah mudahkan dan murahkan. Apapun itu bentuk kebaikannya. Sudah mudah dilakukan berlipat pula ganjaran pahalanya. Momentum yang tidak terdapat di bulan-bulan lainnya. Subhanalloh.
Tapi, tentu saja agar kita bisa meraup pahala yang demikian besar di bulan Ramadhan, maka kita harus jauh-jauh hari membuat perencanaan kebaikan agar kebaikan kita itu bermanfaat buat orang lain dan berpahala besar bagi diri kita.
Programlah untuk bisa mengkhatamkan al-Qur'an lebih dari 3 kali misalnya dengan mengejar tilawah al-Qur'an anda dari sekarang.
Programlah untuk bisa bersedekah lebih banyak di bulan ini, karena semakin murah tangan kita dalam memberi maka akan semakin murah pula rejeki kita.
Programlah diri Anda untuk memanfaatkan ilmu anda untuk diberikan kepada orang lain dan mempelajari ilmu.
Programlah dengan berbagai macam perencanaan besar lainnya. Insya Allah pada waktunya kita akan panen di saat-saat terakhir hidup kita.
4. Menghentikan Sifat Permusuhan dengan Orang Lain.
Sebagian besar umat Islam di Indonesia, hanya sadar berdamai dengan orang yang dimusuhi dan dibencinya ketika ingin masuk bulan Ramadhan. Tapi sayang, sikap itu luntur dan berlanjut lagi ketika usai Ramadhan dan seterusnya.
Padahal, Ramadhan menggembleng jiwa kita untuk selamanya melawan sifat permusuhan yang merupakan sifat setan, la'natullah alaihi itu.
Betapa indahnya kalau kita masuk ke bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, tanpa dendam dan menyambutnya dengan lapang dada dan penuh keridhoan.
5. Memperbanyak Ibadah Sunnah dan Ketaatan.
Tapi bukan berarti meninggalkan yang wajib-wajib. Justru yang wajib-wajiblah yang lebih harus ditingkatkan. Taat dalam arti memperbanyak hal-hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah swt. Bagaimana tidak, rahmat Allah ditebarkan ke bulan Ramadhan ini. Bentuknya salah satunya kemudahan dalam berbuat kebajikan dan gampangnya menjauhi dosa dan kemaksiatan.
Sebaliknya, apabila di bulan Ramadhan saja kita sulit untuk melakukan ketaatan, apalagi di bulan-bulan lainnya?!
Apabila di bulan Ramadhan saja kita mudah tergoda melakukan dosa, apatah lagi di luar bulan Ramadhan?!
Tapi umumnya, memang rahmat dan kasih sayang Allah membuktikan bahwa di bulan penuh rahmat ini lebih dominan ketimbang murka-Nya. Itu dikarenakan rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya yang berlaku pada hamba-hamba-Nya.
Jadi, mari kita ucapkan: "Ahlan Wa Sahlan Yaa Ramadhan, selamat datang wahai bulan kebaikan."
Wallahu A'lam
 http://www.lbbqsohibulquran.org

Wanita yangTidak Boleh Dinikahi

Wanita yang tidak tidak boleh dinikahi Menurut Islam Penulis H. TARMIZI ALFUJUDY Terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan demi terc...