II- Wukuf di Arafah
II- Wukuf di Arafah
Wukuf artinya berdiam diri di Arafah pada waktunya. Wukuf merupakan
salah satu rukun haji, tidak sah Haji seseorang jika tidak berwukuf di
Arafah pada tanggal 9 Dhul Hijjah. Masuknya waktu wukuf sesuai dengan
ijma’ ulama mulai dari tergelincirnya matahari tanggal 9 Dhulhijjah
sampai terbit fajar tanggal 10 Dhulhijjah. Sebaik-baiknya wukuf
dilakukan mulai dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya matahari
dan sekurang-kurangnya wukuf dilakukan sepintas lalu, yaitu dengan cara
melewati Arafah sekedar thuma’ninah sambil berjalan kaki atau
mengendarai kendaraan
عن علِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
بِعَرَفَةَ فَقَالَ هَذَا الْمَوْقِفُ وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ
وَأَفَاضَ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ (صحيح الترمذي)
Dari Ali Bin Abu Thalib ra, Rasulullah saw wuquf di Arafah lalu
bersabda: “Ini adalah tempat wuquf, dan semua Arafah adalah tempat
wuquf”. Lalu beliau bertolak (meninggalkan Arafah) ketika matahari
terbenam (at-Tirmidzi)
Diriwayatkan bahwa Nabi saw berwukuf setelah tergelincir matahari (HR Muslim)
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ أَنَّ نَاسًا مِنْ
أَهْلِ نَجْدٍ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ وَهُوَ بِعَرَفَةَ فَسَأَلُوهُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى
الْحَجُّ عَرَفَةُ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ
فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ (رواه ابو داود وغيره)
Dari Abdurahman bin Yamar ra, bahwa: Manusia dari pendududuk Najed
datang kepada Rasulallah saw di Arafah, bertanya kepadanya. Lalu
Rasulullah saw menyuruh seseorang berseru: Haji adalah Arafah. barang
siapa datang (di Arafah) di malam jama’ (Muzdalifah) sebelum terbit
fajar maka ia memperoleh haji. (HR Abu Dawud dll)
Sunah Wukuf
@ – Berwukuf dari siang sampai malam yaitu mulai dari tergelincir matahari sampai tenggelamnya matahari.
عَنْ علِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
بِعَرَفَةَ فَقَالَ هَذَا الْمَوْقِفُ وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ
وَأَفَاضَ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ (صحيح الترمذي)
Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: bahwa Rasulallah saw berwukuf
lalu berangkat (meninggalkan Arafah) ketika matahari terbenam. (HR
Shahih at-Tirmidzi)
@ – Berwukuf di shakharat sambil menghadap ke kiblat, sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah saw,
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : ثُمَّ رَكِبَ
حَتَّى أَتَى الْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ إلَى
الصَّخَرَاتِ، وَجَعَلَ حَبْلَ الْمُشَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ
الْقِبْلَةَ (رواه مسلم)
Dari Jabir ra (haditsnya yang panjang): Kemudian beliau tiba di
tempat wukuf maka perut untanya (al-Qaswa) telah berada ke arah
shakharat menghadap kiblat (HR Muslim). Al-Shakhrat adalah satu tempat
berada di bawah Jabal Rahmah di padang Arafah
@ – memperbanyak do’a dan dzikir dan sebaik baiknya dzikir dengan memperbanyak membaca :
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،
لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ يُـحْيِي وَيُـمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيْرٌ
لِمَا رُوِىَ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ قَالَ : خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ
مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (وراه الترمذي )
Rasulallah saw bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari
‘Arafah dan sebaik-baik apa yang aku dan para Nabi sebelumku katakan
adalah:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ
اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ يُـحْيِي وَيُـمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيْرٌ
(Tiada Ilah melainkan Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya,
milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian dan Dialah Yang Maha berkuasa
atas segala sesuatu).” (HR at-Tirmidzi)
@ – Berwukuf dalam keadaan suci
@ – Berwukuf dalam keadaan berdiri diatas kendaraan (unta) sesuai
dengan apa yang telah dilakukan Rasulallah bahwa beliau wukuf berdiri
diatas kendaraannya (unta qaswaa) (HR Bukhari Muslim).
@ – Men-jama’ taqdim dan qoshor sholat Dhuhur dan Ashar di masjid
Ibrahim (disebut juga masjid Namirah atau masjid Arafah) yaitu
menggabung shalat Dhuhur dan Ashar di waktu dhuhur dengan satu adzan dan
2 kali iqamat, dua raka’at-dua raka’at. Hal ini sesuai dengan perbuatan
Rasulallah saw yang diriwayatkan dari Jabir ra dengan haditsnya yang
panjang.
Keterangan (Ta’liq):
Sekilas Tentang Arafah
Arafah di sebut dalam Al-Qu’ran dalam bentuk plural ”Arafat” sebagaimana tertera dalam surat al-Baqarah ayat no. 198,
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ – البقرة ﴿١٩٨﴾
Artinya: ” Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam.”
Arafah berjarak sekitar 25 km dari kota Makkah dan merupakan padang
pasir yang amat luas dan di bagian belakang dikelilingi bukit-bukit batu
yang membentuk setengah lingkaran. Sekarang ini Arafat sudah subur
ditanami dengan pohon-pohon.
Di Arafah Nabi saw pernah bersabda: “Aku wukuf disini dan arafah
seluruhnya tempat untuk melaksanakan wukuf”. Arafah merupakan Masy’aril
haram atau tempat syiar suci, tetapi Arafat sendiri tidak termasuk tanah
haram atau tanah suci seperti Makkah. Rasulullah saw bersabda: “Haji
itu ialah di Arafah dan setiap bagian tanah Arafah ialah sah untuk
wukuf” (hadits tersebut diatas).
Arafah merupakan tempat yang sangat penting dalam perjalanan ibadah
Haji. Disanalah para jemaah haji berkumpul untuk melaksanakan wukuf pada
tanggal 9 Dzul Hijjah dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya
dan sholat Dhuhur dan Asar dijama’ kan atau disatukan dengan satu adzan
dan 2 kali iqamat. Wukuf merupakan salah satu rukun haji, tanpa
melaksanakan wukuf di Arafah hajinya tidak sah.
Arafah mengingatkan kita kepada Padang Mahsyar di saat manusia
dibangkitkan kembali dari kematian oleh Allah dan wukuf di hadapan Nya.
Saat itu semua manusia sama di hadapan Allah, tidak ada perbedaan kulit
dan bangsa yang membedakan hanyalah kualitas ketaqwaannya kepada Allah.
Di Arafah ada dua tempat yang mempunyai nilai sejarah yang sangat
penting yaitu masjid Namirah (masjid Ibrahim) dan bukit Rahmah (jabal
Rahmah). Dibawah bukit terdapat sebuah masjid Shakharat. Di masjid
Shakharat itulah Nabi saw berwukuf dan pernah turun wahyu yang berbunyi:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً – المائدة ﴿٣﴾
Artinya: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan
telah Ku cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan telah Ku ridhoi Islam itu jadi
agamamu”. (Qs al-Maidah ayat: 3)
Di sana juga ada lembah yang disebut dengan lembah ’Uranah (wadi
’Uranah), lembah ini menjadi batas antara Arafah dengan luar Arafah. Di
Arafah Rasulullah saw telah berkhutbah ketika melakukan haji wada’.
Menurut hadits Jabir ra yang panjang bahwasanya Nabi saw berkhutbah di
hadapan manusia yang sedang melakukan haji bersama sama beliau. Khutbah
beliau itu sangat poluler dan dinamakan Khutbatul Wada’ yang dimulai
dengan: “Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah suci sebagaimana
sucinya hari ini, bulan ini dan negeri kalian ini”
Keutamaan Arafah:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا قَالَتْ : إِنَّ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ
مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ
عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ،
فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ (مسلم)
- Dari Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda: ”Tidak ada hari paling
banyak Allah memerdekakan hambaNya dari neraka daripada hari Arafah.
Allah sesungguhnya mendekati mereka dan membangganggakan mereka kepada
para Malaikat seraya berkata: Apa saja yang mereka inginkan akan Aku
kabulkan” (HR Muslim).
عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : أَفْضَلُ
الدُّعَاءِ : دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ (رواه الترمذي)
- Hadits lainnya tentang keutamaan tanah Arafah, dari Abu Hurairah ra
Rasulallah saw bersabda: “Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah”. (HR
at-Tirmidzi)
http://hasansaggaf.wordpress.com
Sekilas Tentang Arafah
Jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah, Makkah. Foto: Antara/Prasetyo Utomo
REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT berfirman,
“Bukanlah suatu dosa bagimu
mencari karunia dari Rabb kalian. Maka apabil kalian bertolak dari
Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah
kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada kalian; dan
sekalipun sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 198).
Imam Ahmad dan para penulis kitab Sunan meriwayatkan melalui sanad
yang shahih dari Ats-Tsauri, dari Bukair bin Atha’ bin Abdurrahman bin
Ya’mar Ad-Daili, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,
“Haji itu adalah wukuf di Arafah. Maka barangsiapa yang mendapatkan
Arafah sebelum fajar berarti dia telah mendapatkan haji. Hari-hari di
Mina itu ada tiga. Namun, siapa pun yang ingin mempercepat (di Mina)
menjadi dua hari, maka dia tidak berdosa. Dan siapa saja yang ingin
berlama-lama, dia juga tidak berdosa.”
Wukuf di Arafah dimulai sejak zawal hingga terbitnya fajar kedua di
hari Nahar. Sebab, ketika Haji Wada’, Nabi melaksanakan wukuf sesudah
mengerjakan shalat Dzuhur hingga matahari tenggelam.
Rasulullah bersabda,
“Hendaklah kalian mengerjakan manasik sepertiku.” Dalam hadits ini beliau juga bersabda,
“Siapa saja yang berada di Arafah sebelum terbit fajar, niscaya telah mendapatkan haji.”
Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i.
Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa wukuf itu dimulai dari awal hari
Arafah.
Mereka berhujjah dengan hadits riwahyat Asy-Sya’bi dari Urwah bin
Mudhras bin Haritsah bin Lam Ath-Thaiy’, dia berkata, “Aku datang
menemui Rasulullah di Muzdalifah saat beliau keluar untuk mengerjakan
shalat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya datang dari Gunung Thayy’,
saya telah membuat lelah tunggangan saya dan tubuh saya penat. Demi
Allah, tidaklah saya melintasi sebuah gunung melainkan saya berhenti
(wukuf) di atasnya, maka apakah saya telah berhaji?’ Rasulullah
bersabda,
“Siapa saja yang menyaksikan shalat kami ini, lalu dia
wukuf bersama kami hingga kami selesai, dan dia pernah melakukan wukuf
sebelum itu di Arafah pada waktu malam atau siang hari, berarti telah
sempurna haji dan ibadahnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ahlus Sunnah).
Ada yang berpendapat, dinamakan Arafah karena berdasarkan riwayat
Abdurrazaq, dia berkata, “Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku, dari
Ibnu Al-Musayyab bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Allah telah mengutus
Jibril menemui Ibrahim untuk melaksanakan ibadah haji beramanya. Ketika
tiba di Arafah, Ibrahim berkata,
“Araftu” (aku telah tahu).’ Sebab dia pernah mendatanginya sebelum itu. Oleh karena itu, tempat ini kemudian dinamakan Arafah.”
Sementara Ibnu Mubarak meriwayatkan dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman
dari Atha’, dia berkata, “Dinamakan Arafah karena Jibril pernah
memperlihatkan manasik kepada Ibrahim. Ibrahim lalu berkata,
‘Araftu, araftu
(aku tela tahu).’ Sebab itulah dinamakan Arafah.” Riwayat yang sama
disampaikan pula dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Majlaz.
Wallahu’alam.
Arafah disebut pula Masy’aril Haram, Al-Masy’ar Al-Aqsha, dan
Ilal ala Wazn Hilal. Gunung yang terdapat di tengahnya disebut Jabal Rahmah.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/sekilas-tentang-arafah/#sthash.UffQkdoi.dpuf
Sekilas Tentang Arafah
Jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah, Makkah. Foto: Antara/Prasetyo Utomo
REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT berfirman,
“Bukanlah suatu dosa bagimu
mencari karunia dari Rabb kalian. Maka apabil kalian bertolak dari
Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah
kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada kalian; dan
sekalipun sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 198).
Imam Ahmad dan para penulis kitab Sunan meriwayatkan melalui sanad
yang shahih dari Ats-Tsauri, dari Bukair bin Atha’ bin Abdurrahman bin
Ya’mar Ad-Daili, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,
“Haji itu adalah wukuf di Arafah. Maka barangsiapa yang mendapatkan
Arafah sebelum fajar berarti dia telah mendapatkan haji. Hari-hari di
Mina itu ada tiga. Namun, siapa pun yang ingin mempercepat (di Mina)
menjadi dua hari, maka dia tidak berdosa. Dan siapa saja yang ingin
berlama-lama, dia juga tidak berdosa.”
Wukuf di Arafah dimulai sejak zawal hingga terbitnya fajar kedua di
hari Nahar. Sebab, ketika Haji Wada’, Nabi melaksanakan wukuf sesudah
mengerjakan shalat Dzuhur hingga matahari tenggelam.
Rasulullah bersabda,
“Hendaklah kalian mengerjakan manasik sepertiku.” Dalam hadits ini beliau juga bersabda,
“Siapa saja yang berada di Arafah sebelum terbit fajar, niscaya telah mendapatkan haji.”
Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i.
Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa wukuf itu dimulai dari awal hari
Arafah.
Mereka berhujjah dengan hadits riwahyat Asy-Sya’bi dari Urwah bin
Mudhras bin Haritsah bin Lam Ath-Thaiy’, dia berkata, “Aku datang
menemui Rasulullah di Muzdalifah saat beliau keluar untuk mengerjakan
shalat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya datang dari Gunung Thayy’,
saya telah membuat lelah tunggangan saya dan tubuh saya penat. Demi
Allah, tidaklah saya melintasi sebuah gunung melainkan saya berhenti
(wukuf) di atasnya, maka apakah saya telah berhaji?’ Rasulullah
bersabda,
“Siapa saja yang menyaksikan shalat kami ini, lalu dia
wukuf bersama kami hingga kami selesai, dan dia pernah melakukan wukuf
sebelum itu di Arafah pada waktu malam atau siang hari, berarti telah
sempurna haji dan ibadahnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ahlus Sunnah).
Ada yang berpendapat, dinamakan Arafah karena berdasarkan riwayat
Abdurrazaq, dia berkata, “Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku, dari
Ibnu Al-Musayyab bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Allah telah mengutus
Jibril menemui Ibrahim untuk melaksanakan ibadah haji beramanya. Ketika
tiba di Arafah, Ibrahim berkata,
“Araftu” (aku telah tahu).’ Sebab dia pernah mendatanginya sebelum itu. Oleh karena itu, tempat ini kemudian dinamakan Arafah.”
Sementara Ibnu Mubarak meriwayatkan dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman
dari Atha’, dia berkata, “Dinamakan Arafah karena Jibril pernah
memperlihatkan manasik kepada Ibrahim. Ibrahim lalu berkata,
‘Araftu, araftu
(aku tela tahu).’ Sebab itulah dinamakan Arafah.” Riwayat yang sama
disampaikan pula dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Majlaz.
Wallahu’alam.
Arafah disebut pula Masy’aril Haram, Al-Masy’ar Al-Aqsha, dan
Ilal ala Wazn Hilal. Gunung yang terdapat di tengahnya disebut Jabal Rahmah.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/sekilas-tentang-arafah/#sthash.UffQkdoi.dpuf